Siapa sih yang nggak antusias kalau denger nama Joko Anwar ngerilis film baru? Begitu denger Ghost in Cell rilis, gue langsung gas ke bioskop buat liat "sihir" apalagi yang bakal dikasih. Tapi jujur aja, setelah keluar studio, ada satu perasaan yang ganjel banget di kepala: "Kok kayak pernah liat ya?"
Buat kalian yang udah nonton The Shawshank Redemption (1994), pasti bakal ngerasa ada deja vu yang kuat banget sepanjang film ini. Yuk, kita bedah bareng-bareng!
Shawshank Redemption Versi Lokal?
Gue nggak mau basa-basi, kemiripan Ghost in Cell sama The Shawshank Redemption itu kerasa banget, bahkan dari premis dasarnya. Tentang seseorang yang dituduh membunuh, masuk penjara, sampai akhirnya berhasil bebas. Oke lah, cara bebasnya beda, tapi "vibe"-nya itu lho, susah buat nggak dibandingin.
Ada beberapa adegan yang menurut gue miripnya kebangetan:
First Day in Prison: Adegan Dhimas pas pertama kali masuk lingkungan penjara itu The Shawshank Redemption banget. Atmosfer dan cara pengambilan gambarnya bener-bener ngingetin gue sama momen Andy Dufresne baru sampe di penjara.
The Shower Scene: Adegan napi mandi dan momen "si Tokek" (yang diperanin Amink) mau melakukan pelecehan itu bener-bener mirip sama geng The Sisters di Shawshank.
Arsitektur Penjara: Bahkan bentuk dan struktur bangunannya pun punya kemiripan yang cukup signifikan.
Visual Gore yang Estetik & Production Design Juara
Tapi tunggu dulu, meskipun dari segi cerita kerasa "terinspirasi", Joko Anwar tetep juara kalau urusan visual. Production design film ini gila, bagus banget dan enak dilihat.
Buat kalian pecinta gore, siap-siap dimanjain. Adegan berdarah-darahnya nggak cuma asal serem, tapi digarap secara artistik dan penuh seni. Ini nilai plus yang bikin Ghost in Cell tetep punya identitas sendiri di tengah kemiripan ceritanya.
Akting: Antara Amink yang Epic dan Arswendy yang... "Fake"?
Ngomongin akting, sebagian besar cast di sini mainnya totalitas. Tapi, ada satu yang menurut gue agak ganjel: akting Arswendy. Entah kenapa di film ini gue ngerasa aktingnya masih kerasa fake atau kurang natural dibanding biasanya.
Di sisi lain, komedinya agak unik. Jujur nih, 30 menit pertama gue flat banget. Penonton kanan-kiri udah pada ketawa ngakak, tapi gue belum dapet lucunya. Baru setelah lewat setengah jam pertama sampai akhir film, gue baru bisa beneran ketawa lepas. Timing-nya emang agak telat panas buat gue.
Dialog "Khas" Joko Anwar yang Terasa Kaku
Satu hal yang jadi ciri khas (atau mungkin kekurangan bagi sebagian orang) adalah dialognya. Seperti biasa, Joko Anwar selalu bikin dialog yang agak aneh didenger telinga orang Indonesia. Bahasanya nggak natural kayak obrolan kita sehari-hari di tongkrongan.
Tapi gue punya teori sih, kayaknya dialognya emang dibuat begitu biar kalau di-translate ke bahasa asing (buat pasar internasional), struktur bahasanya lebih gampang dicerna dan dimengerti orang luar. Jadi ya, mungkin ini strategi buat go international!
Kesimpulan: Layak Tonton Gak?
Ghost in Cell tetep layak tonton, apalagi kalau lo emang fans berat karyanya Joko Anwar atau suka film dengan isu-isu sosial Indonesia yang kuat. Meskipun ada aroma-aroma The Shawshank Redemption, visual yang cantik dan isu yang diangkat tetep bikin film ini punya daya tarik tersendiri.
Skor Pribadi: 7.5/10
Kalau menurut kalian gimana? Apa kalian juga ngerasa film ini mirip Shawshank, atau cuma perasaan gue aja? Tulis di kolom komentar ya!
Review Ghost in Cell, Film Joko Anwar Terbaru, Kemiripan Ghost in Cell dan The Shawshank Redemption, Review Film Indonesia 2026, Akting Amink Ghost in Cell.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon untuk tidak menaruh link dalam bentuk apapun