Stop Sebut Film "Sampah"! Kritik Boleh Pedas, Tapi Jangan Lupa Ada Keringat di Balik Layar - todaymu

Post Top Ad

Stop Sebut Film "Sampah"! Kritik Boleh Pedas, Tapi Jangan Lupa Ada Keringat di Balik Layar

Stop Sebut Film "Sampah"! Kritik Boleh Pedas, Tapi Jangan Lupa Ada Keringat di Balik Layar


Zaman sekarang, semua orang bisa jadi kritikus film cuma modal smartphone. Di satu sisi, ini bagus buat industri. Tapi di sisi lain, gue miris banget tiap kali baca review yang gampang banget ngeluarin kata-kata kasar kayak "Film Sampah", "Busuk", atau "Produk Gagal".


Pertanyaannya: Apakah sebuah karya seni yang dibuat ratusan orang selama berbulan-bulan (bahkan bertahun-tahun) pantes dapet label serendah itu?


Seni Tetaplah Seni, Bukan Sampah

Gue paham, penonton adalah raja. Kita bayar tiket pakai uang hasil kerja keras, jadi wajar kalau kita pengen dapet kualitas yang sebanding. Pas dapet film yang nggak sesuai ekspektasi, rasa kecewa itu pasti ada.


Tapi bagi gue, sejelek apa pun sebuah film, dia tetep sebuah karya seni. Secara visual, pasti ada aspek yang masih bisa dinikmati—entah itu lighting-nya, pemilihan warnanya, atau mungkin set design-nya. Menyebut sebuah film sebagai "sampah" itu rasanya keterlaluan dan terlalu merendahkan.


Ada Piring Nasi yang Diperjuangkan

Kenapa gue bisa kepikiran sampai ke sana? Karena gue sendiri pernah ngerasain gimana sulitnya bikin film pendek. Baru level film pendek aja tantangannya udah luar biasa, apalagi film layar lebar yang melibatkan kru skala besar.


Di balik durasi 90 menit yang kita tonton sambil ngunyah popcorn, ada:


1. Kru yang kurang tidur demi ngejar golden hour.


2. Tim artistik yang muter otak biar set kelihatan hidup.


3. Editor yang matanya sampai merah demi nyusun shot per shot.


Mereka semua kerja keras di sana buat cari nafkah. Mengatakan karya mereka "sampah" itu rasanya kayak nggak menghargai perjuangan manusia di baliknya.


Kritik Itu Perlu, Tapi Pakai Etika

Gue setuju banget kalau kritik itu perlu. Sutradara dan produser butuh masukan biar film Indonesia makin berkembang dan nggak jalan di tempat. Tanpa kritik, kita nggak bakal tahu di mana letak lubang yang harus ditambal.


Tapi, ada bedanya antara mengkritik dan menghina.


Kritik: "Film ini kurang bagus di bagian skrip karena dialognya kaku dan eksekusi visualnya nggak konsisten."


Menghina: "Film sampah, nggak layak tayang!"


Kritik yang sehat adalah kritik yang membedah aspek teknis maupun naratif secara objektif, bukan yang menyerang harga diri karyanya.


Pilihan Kata Gue: "Kurang Bagus", Bukan "Busuk"

Gue pribadi selalu berusaha menghargai cara orang berbicara, karena setiap orang punya standar masing-masing. Tapi buat gue, kalau emang sebuah film itu gagal memenuhi standar, gue lebih milih bilang: "Film ini kurang bagus di berbagai aspeknya."


Kata-kata itu jauh lebih adil. Kita mengakui kalau kualitasnya kurang, tapi kita nggak menganggap rendah kerja keras orang-orang di dalamnya.


Penutup: Yuk, Jadi Penonton yang Lebih Bijak

Nonton film itu emang soal hiburan, tapi nggak ada salahnya kita sedikit lebih empati. Mari kita kritik film biar industrinya maju, tapi tetap dengan cara yang manusiawi. Karena di setiap frame yang kita anggap buruk, ada keringat seseorang yang berharap karyanya bisa diapresiasi. Gue keingat komentar Pak Hanung Bramantyo terhadap komentarku di media sosialnya, gue bilang kalau aku bikin film pendek selalu gagal, Pak Hanung me-reply "Tidak Ada Film yang Gagal, selama Film itu Sudah Jadi"


Kalau menurut kalian, apakah kata "sampah" itu masih wajar dipakai buat nge-review film? Atau kalian setuju sama pendapat gue? Ngobrol di kolom komentar ya!


Image Cover : nyfa.edu

Etika Review Film, Kritik Film Indonesia, Cara Menilai Film, Reviewer Film Pedas, Industri Perfilman Indonesia, Opini Film.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon untuk tidak menaruh link dalam bentuk apapun