Di bawah langit Senayan yang kelabu, ribuan jiwa berkumpul, menyerukan keadilan yang telah lama terpendam. Jalanan Jakarta, biasanya riuh oleh deru mesin dan hiruk-pikuk kehidupan, kini bergema dengan suara rakyat. Mereka datang, dari pelosok ibu kota hingga ujung desa, membawa luka kolektif, membawa harap yang kian pudar. Gedung DPR, yang seharusnya menjadi rumah aspirasi, kini berdiri bagai benteng yang angkuh, menutup telinga dari jerit rakyatnya sendiri.
Mereka, para buruh, mahasiswa, dan pengemudi ojek online, berjalan bersama, menentang kebijakan yang mencekik. Tunjangan mewah untuk para wakil, yang konon mewakili rakyat, menjadi bara yang membakar semangat protes. Rp50 juta sebulan untuk rumah para anggota DPR, sementara rakyat kecil berjuang untuk sesuap nasi. "Jogetlah di kamar kalian, tapi jaga hati rakyat!" teriak seorang orator di atas mobil komando, suaranya pecah, namun penuh makna. Di antara lautan massa, ada Patihau dari Pematang Siantar dan Aster dari Yogyakarta, dua wajah dari jutaan rakyat yang muak pada pengkhianatan.
Namun, di tengah gelombang kemarahan, tragedi menyelimuti malam. Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online berusia 21 tahun, menjadi korban. Di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, kendaraan taktis Brimob, yang seharusnya melindungi, justru menjadi maut. Video amatir yang beredar, bagai lukisan kelam, menangkap detik-detik ketika Affan terjatuh, tubuhnya dilindas roda-roda besi yang tak berhenti. Massa berteriak, mencoba mengejar, namun nyawa Affan telah pergi, meninggalkan duka yang menyayat. Ia bukan sekadar pengemudi, ia tulang punggung keluarga, harapan bagi anak-anaknya yang kini kehilangan pelita.
Langit Jakarta menangis malam itu, seolah ikut meratapi ketidakadilan. Gas air mata beterbangan, mencakar mata dan dada para demonstran. Warga Tanah Abang membagi pasta gigi dan air mineral, tanda solidaritas di tengah kepungan asap. Di media sosial, kemarahan rakyat menggema, menuntut pertanggungjawaban. "Bukan hanya Affan, tetapi hati rakyat yang dilindas," tulis seorang warganet, kata-katanya bagai puisi yang tak selesai.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengucap maaf, suaranya terdengar di depan ruang jenazah RSCM. Istana pun menyampaikan duka, berjanji menyelidiki. Tujuh personel Brimob diperiksa, namun apakah itu cukup untuk menebus nyawa? Komnas HAM mengecam, menyebut tindakan ini pelanggaran hak asasi manusia, sebuah noda dalam lembaran demokrasi. Kontras menyerukan sanksi pidana, bukan sekadar etik, karena di balik roda-roda Barakuda itu, ada nyawa yang direnggut, ada keluarga yang kini kehilangan sandaran.
Di tengah kericuhan, suara rakyat tetap bergema. Mereka menuntut penghapusan outsourcing, kenaikan upah, dan revisi undang-undang yang lebih berpihak. Namun, lebih dari itu, mereka menuntut keadilan, agar DPR tak lagi menjadi istana yang asing bagi rakyatnya. Affan, dalam kepergiannya, menjadi simbol perjuangan yang tak padam. Namanya kini bergema, bukan hanya sebagai korban, tetapi sebagai pengingat bahwa rakyat kecil tak akan diam ketika harapan mereka diinjak.
Hujan di Senayan telah reda, namun luka di hati rakyat masih membasah. Affan telah pergi, namun semangatnya hidup dalam setiap langkah demonstran, dalam setiap teriakan yang menuntut keadilan. Gedung DPR mungkin berdiri kokoh, tetapi di bawah langit yang sama, rakyat terus berjalan, menanti hari ketika suara mereka benar-benar didengar, dan nyawa tak lagi harus menjadi taruhan
Namun, di tengah gelombang kemarahan, tragedi menyelimuti malam. Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online berusia 21 tahun, menjadi korban. Di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, kendaraan taktis Brimob, yang seharusnya melindungi, justru menjadi maut. Video amatir yang beredar, bagai lukisan kelam, menangkap detik-detik ketika Affan terjatuh, tubuhnya dilindas roda-roda besi yang tak berhenti. Massa berteriak, mencoba mengejar, namun nyawa Affan telah pergi, meninggalkan duka yang menyayat. Ia bukan sekadar pengemudi, ia tulang punggung keluarga, harapan bagi anak-anaknya yang kini kehilangan pelita.
Langit Jakarta menangis malam itu, seolah ikut meratapi ketidakadilan. Gas air mata beterbangan, mencakar mata dan dada para demonstran. Warga Tanah Abang membagi pasta gigi dan air mineral, tanda solidaritas di tengah kepungan asap. Di media sosial, kemarahan rakyat menggema, menuntut pertanggungjawaban. "Bukan hanya Affan, tetapi hati rakyat yang dilindas," tulis seorang warganet, kata-katanya bagai puisi yang tak selesai.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengucap maaf, suaranya terdengar di depan ruang jenazah RSCM. Istana pun menyampaikan duka, berjanji menyelidiki. Tujuh personel Brimob diperiksa, namun apakah itu cukup untuk menebus nyawa? Komnas HAM mengecam, menyebut tindakan ini pelanggaran hak asasi manusia, sebuah noda dalam lembaran demokrasi. Kontras menyerukan sanksi pidana, bukan sekadar etik, karena di balik roda-roda Barakuda itu, ada nyawa yang direnggut, ada keluarga yang kini kehilangan sandaran.
Di tengah kericuhan, suara rakyat tetap bergema. Mereka menuntut penghapusan outsourcing, kenaikan upah, dan revisi undang-undang yang lebih berpihak. Namun, lebih dari itu, mereka menuntut keadilan, agar DPR tak lagi menjadi istana yang asing bagi rakyatnya. Affan, dalam kepergiannya, menjadi simbol perjuangan yang tak padam. Namanya kini bergema, bukan hanya sebagai korban, tetapi sebagai pengingat bahwa rakyat kecil tak akan diam ketika harapan mereka diinjak.
Hujan di Senayan telah reda, namun luka di hati rakyat masih membasah. Affan telah pergi, namun semangatnya hidup dalam setiap langkah demonstran, dalam setiap teriakan yang menuntut keadilan. Gedung DPR mungkin berdiri kokoh, tetapi di bawah langit yang sama, rakyat terus berjalan, menanti hari ketika suara mereka benar-benar didengar, dan nyawa tak lagi harus menjadi taruhan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon untuk tidak menaruh link dalam bentuk apapun